1. Pemerintah Turun Tangan: Respons Cepat di Tengah Ancaman
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Riau kembali menjadi sorotan. Wakil Menteri Kehutanan, Sulaiman Umar, bersama jajaran BNPB dan instansi terkait, langsung terjun ke lapangan untuk memantau kondisi terkini. Langkah ini bukan sekadar simbolis, tapi bagian dari strategi terpadu untuk menekan dampak karhutla yang makin meluas.
Sulaiman menegaskan bahwa kondisi iklim dan cuaca ekstrem di Riau menuntut kewaspadaan penuh. Pemerintah pun mengerahkan seluruh sumber daya yang tersedia untuk memperkuat sinergi lintas sektor. Tujuannya jelas: mencegah karhutla meluas dan menjaga keselamatan masyarakat serta ekosistem.

2. Patroli Terpadu dan Mandiri: Menjaga Titik Api Tetap Terkendali
Langkah konkret yang dilakukan di lapangan adalah intensifikasi patroli. Ada dua jenis patroli yang dijalankan:
- Patroli Terpadu, melibatkan Manggala Agni, TNI, Polri, dan Masyarakat Peduli Api (MPA). Dilaksanakan di 9 posko desa yang tersebar di Bengkalis, Dumai, Indragiri Hilir, Kampar, Kepulauan Meranti, Pelalawan, dan Siak.
- Patroli Mandiri, dilakukan di 19 desa lainnya yang juga rawan karhutla.
Kehadiran tim gabungan ini bukan hanya untuk pemadaman, tapi juga pencegahan dini. Mereka memantau titik panas, menyosialisasikan bahaya karhutla, dan memastikan kesiapsiagaan masyarakat tetap tinggi.
3. Operasi Modifikasi Cuaca: Hujan Buatan untuk Lahan Gambut
Salah satu terobosan yang dilakukan pemerintah adalah Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Program ini bertujuan menurunkan hujan buatan di wilayah-wilayah yang mengalami kekeringan ekstrem, terutama lahan gambut yang sangat rentan terbakar.
OMC dilakukan dengan menyemai garam (NaCl) ke awan menggunakan pesawat khusus. Hingga saat ini, sudah dilakukan 14 sortie dengan total 12.600 kg garam tersebar di langit Riau. Operasi ini juga diperluas ke provinsi lain seperti Sumatera Selatan, Jambi, Kalimantan Barat, Tengah, Selatan, dan Timur.
Langkah ini terbukti efektif dalam mengurangi risiko kekeringan dan mempercepat pemadaman titik api yang sulit dijangkau.
4. Data Hotspot dan Luas Karhutla: Fakta yang Mengkhawatirkan
Berdasarkan sistem pemantauan karhutla Kementerian Kehutanan (SiPongi), hingga 20 Juli 2025 tercatat:
- 4.449 hotspot di seluruh Riau
- Konsentrasi tertinggi di Rokan Hilir (1.767 titik), Rokan Hulu (1.114 titik), dan Dumai (333 titik)
- Bulan Juli menjadi puncak dengan 3.031 titik panas
Luas kebakaran hutan dan lahan periode Januari–Mei 2025 mencapai 751,08 hektare, dengan 96,23% terjadi di lahan gambut. Dari total tersebut:
- 2,19% berada di tutupan hutan
- 97,81% di tutupan non-hutan
- 14,22% di kawasan hutan
- 85,78% di areal penggunaan lain (APL)
Angka-angka ini menunjukkan betapa seriusnya ancaman karhutla, terutama di lahan gambut yang menyimpan karbon tinggi dan sulit dipadamkan.
5. Kolaborasi Lintas Wilayah: Semua Bergerak Bersama
Penanganan karhutla tidak bisa dilakukan oleh satu pihak saja. Pemerintah mengerahkan 120 personel Manggala Agni dari berbagai daerah, termasuk Dumai, Siak, Rengat, Pekanbaru, serta bantuan dari Jambi dan Sumatera Selatan.
Selain itu, dukungan juga datang dari brigade Dinas Kehutanan, BPBD Riau dan Rokan Hilir, TNI, Polri, serta perusahaan seperti Pertamina Hulu Rokan. Kolaborasi ini menjadi kunci dalam mempercepat pemadaman dan mencegah dampak lintas batas, seperti asap yang bisa menyebar ke negara tetangga.
Kesimpulan: Karhutla Bukan Sekadar Bencana Musiman
Karhutla di Riau bukan hanya soal api dan asap. Ini adalah persoalan kompleks yang menyangkut iklim, ekosistem, kesehatan masyarakat, dan reputasi Indonesia di mata dunia. Langkah cepat dan terpadu yang dilakukan pemerintah patut diapresiasi, tapi tantangan ke depan tetap besar.
Pencegahan harus menjadi prioritas utama. Edukasi masyarakat, penegakan hukum terhadap pembakar lahan, dan inovasi teknologi seperti OMC harus terus ditingkatkan. Karena menjaga hutan bukan hanya tugas pemerintah, tapi tanggung jawab kita semua.
#karhutla #Riau #lingkungan #Wamenhut #cuacaekstrem
Leave a Reply